Innermost

Jemari. Kedua ibu jari ini selalu menjadi perantara dalam pembicaraan keduanya. Nabila membuka wawasannya melalui ibu jarinya pula. Ia tak pernah menyandang jenjang perkuliahanーlebih tepatnya tengah memantaskan diri untuk menyandangnya. Setiap pesan itu membuatnya semakin yakin untuk mampu menembusnya. Menembus pintu menuju impiannya.

Teman dari dunia maya. Mereka adalah teman dari grup ZenClub yang didirikan khusus untuk alumni. Hanya orang-orang yang ingin mengulang SBMPTN serpertinya lah yang tergabung di grup tersebut. Teman-temannya selalu membuat semangatnya membara. Mungkin inilah yang dimaksud dengan teman seperjuangan.

Selembar kertas berisi kartu peserta SBMPTN keluar dari printer hitam yang kini tampak usang termakan oleh waktu. Jemari itu kini meraih kertas dan menatapnya penuh arti.

Setahun belakangan ini Nabila melewatkan begitu banyak hal. Mulai dari perjalannya melintasi sudut pulau Jawa yang menghabiskan banyak biaya hingga memutuskan belajar mandiri di rumahーmeminimalisir pengeluaran lebih lanjut katanya. Orangtua Nabila tentu mengharapkan yang terbaik. Mereka rela mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk perjalanan tersebut. Papa yang sangat menggilai pekerjaannyaーuntuk pertama kalinyaーmau meluangkan waktu dengan mengambil cuti beberapa hari demi dirinya.

Ada harga yang harus dibayar.

Kumparan kenangan mulai berdatangan ke dalam pikirannya.

Ya, dia tentu merasa bersalah. Entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah di setiap kegagalan yang didapatnya. Menyesali ketidakseriusnya saat menimba ilmu. Menyesali kemampuan mengingatnya yang burukーtak ayal membuat otaknya blank saat mengerjakan soal-soal yang diberikan. Dia merasa begitu bodoh, sampai-sampai dari 12 pilihan jurusan yang diajukan, tidak ada satu pun jurusan yang meluluskannya sebagai mahasiswa baru.

Hingga akhirnya Nabila sampai di titik jenuh. Jenuh untuk terus-menerus menyalahkan keadaan. Dia mulai membuka laptopnya lalu mengetik dua buah kataーyang sungguh tidak disangka, mampu membuat halaman baru dalam hidupnya. Zenius Education. Saat itu Nabila hanya tahu bahwa web tersebut menyediakan sistem belajar online yang menarik. Lalu matanya mulai beranjak ke kata Xpedia atas kolom komentar blog Zenius. Sebuah paket belajar offline sebagai alternatif untuk pelajar yang mengalami kesulitan mengakses internet. Segera saja Nabila mengangkat laptopnya. Kedua tungkainya berjalan cepat keluar dari kamarnya.

“Yasudah, kalau memang bisa membantumu dalam belajar, silakan saja,” sahut Mama.

Wajah Nabila mendadak cerah. Jemarinya kini sibuk mengikuti web pembelian Xpedia. Setelah setiap tahap selesai dilewatinya, ia kini tinggal menunggu. Menunggu datangnya sekotak benda yang akan mengisi hari-harinya.

 

***

“Pakeeet!!!”

Kedua tungkai Nabila saling mendahului, berusaha melangkah lebih cepat lagi menuju pintu. Ia tak bisa menutupi kegirangannya, bibirnya terkulum sepanjang waktu. Paket yang ditunggunya telah datang! Dengan segera Nabila membuka paket tersebut. Terdapat sebuah kotak hitam yang elegan dengan gambar dunia dan tulisan Xpedia di atasnya. Latar belakang berwarna hitam tak membuat kotak itu terlihat lusuh, justru semakin menonjolkan gambar dunia tersebut. Meraih impian hingga ujung dunia, batinnya.

Setelah meminta izin Mama perihal pembagian waktu belajarnya yang baru, Nabila kini tengah asyik berdiam diri di kamarnya. Terdapat beberapa CD yang membuatnya bingung memilih. Setelah dilihat satu-persatu, kedua irisnya langsung tertambat pada CD fisika. Salah satu mata pelajaran yang menjadi kelemahannya.

Pada intro, tutor bernama Sabda, memberikan sedikit pemaparan yang membuat pemahamannya akan fisika perlahan berubah. Sepertinya mata pelajaran yang kerap kali dihindari olehnya tersebut tidaklah serumit itu. Puas dengan pemaparan Sabda, kini ia merasa lumayan siap memulai belajarnya.

S__5365922

Nabila tidak bisa berhenti melihat reminder yang baru saja dibuatnya. Dia sengaja menambah beberapa keterangan tambahan untuk meningkatkan semangat. Setelah dirasa semua keperluannya sudah terpenuhiーbuku catatan, pensil, penghapus, laptop, dan tentu saja XpediaーNabila memulai belajarnya.

***

Sudah 3 jam berlalu. Oke, mungkin ini efek kembali fokus setelah bersantai ria dua bulan lamanya. Seperti ada kepulan asap hitam di atas kepalanya. Bagaimanapun juga, mempelajari materi yang ditakutinya tidak bisa berjalan semudah membalikkan telapak tangan. Kumpulan rumus-rumus itu tidak henti-hentinya bersalto ria dalam pemikirannya.

Bermaksud untuk move on, Nabila membuka CD lainnya, kimia. Sebenarnya, Nabila tidak membenci pelajaran tersebut. Namun, dia juga tidak terlalu menyukainya. Karena menganggap kimia sebagai pelajaran ‘biasa-biasa saja’ dia pun merasa cukup percaya diri untuk mempelajarinya. 30 menit.. 60 menit.. 120 menit.. Kini sudah dua jam berlalu. Pemaparan Yokiーtutor kimia Zenius Educationー cukup mudah dimengerti. Begitu mendetail dan juga membuat durasi video semakin panjang. Terbiasa tidur siang, kini Nabila sudah merasa mengantuk. Bantal dan kasur di sebelah meja belajarnya terlihat begitu menggoda untuk ditiduri. Hanya perlu sepersekian menit bagi tubuhnya untuk berpindah ke kasur dan merebahkan tubuhnya yang bergerak di luar kesadaran. Matanya bersiap untuk dipejamkan hingga…

Tok tok tok

“Nab, ayo masak dulu,”

Suara Mama membangunkan Nabila dari kuasa hipnotis kasur.

“Iya maaaa”

Memasak, mencuci piring, mencuci baju, menyapu, dan mengepel. Itu sudah jadi kegiatan bergilir di rumahnya setiap hari. Terkadang Nabila juga memandikan adiknya yang masih bayi dan memberi makan di jam-jam tertentu. Terkadang dia bosan dan lelah mengurus kerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Namun tiap kali Nabila ingin keluar untuk menghabiskan waktu bagi dirinya sendiri, begitu banyak pertimbangan yang datang untuk mengubah keputusannya. Adiknya yang masih bayi itu tidak bisa ditinggal terlalu lama karena setelah bangun dari tidur pasti akan segera menangis mencari Mamanya. Nabila cemas adiknya akan terjatuh dari kasur karena merangkak ke tepi kasur atau rewel minta diajak bermain saat Mama sedang mencuci baju.

Akhirnya Nabila tetap di tempat yang sama. Melakukan rutinitas tersebut dengan suasana hati yang acap kali berubah. Targetnya menghabiskan satu bab pelajaran dalam seminggu seringkali terbengkalai karena kegiatan tertentu. Bisa karena harus menjaga adiknya atau memasak yang memangkas alokasi waktu siang hari yang sebelumnya dipakai untuk tidur, berganti menjadi belajar, dan sekarang memasak.

Nabila pernah pula mengganti jadwal belajarnya : seminggu satu pelajaran. Tetapi, setiap kali mengganti pelajaran, dia sering melupakan bagian penting dari materi yang dipelajarinya. Meski sudah membolak-balikkan buku catatan, masih saja ada bagian yang Nabila lupakan.

Segalanya menjadi kacau.

Terdapat beberapa anak kelas di SMA-nya yang mengulang ujian SBMPTN di tahun depan juga. Untuk mengisi waktu luang tersebut, ada yang mendaftar untuk bimbel khusus alumni di sebuah instansi, ada yang berkerja di suatu bank untuk menambah pengalamannya, dan ada juga yang ikut daftar antrean ZeniusX; wadah belajar milik Zenius Education di Tebet, Jakarta.

Ingin rasanya ikut Zenius X seperti teman itu. Nabila sudah mempelajari rute commuter line dan kendaraan umum apa saja yang akan digunakan untuk ke sana. Sayang, proposalnya tidak mendapatkan persetujuan oleh orangtua. Mereka berpendapat kalau lokasi tersebut terlalu jauh untuk ditempuh setiap hari. Mereka hapal betul kalau Nabila sudah kelelahan, materi pelajaran akan lewat begitu saja dari telinganya. Uang transport dan bimbingannya juga lumayan besar. Selain itu, kembali ke urusan rumah tangga, pekerjaan rumah akan terbengkalai tanpa dirinya. Meski dia memiliki dua adik: perempuan berusia 17 tahun dan bayi laki-laki, tetapi adik perempuannya itu masih belum bisa diandalkan untuk urusan rumah tangga.

Entah sudah berapa banyak emosi yang diluapkan Nabila pada adiknya yang begitu keras kepala dan sulit untuk dimintai tolong. Firaーnama adik perempuannyaーsering beranggapan kalau perkerjaan di rumah begitu melelahkan untuk pelajar sepertinya. Fira memang baru bisa pulang sore atau selepas maghrib. Dia hanya mau mencuci piring sekali sepulang sekolah, lalu kembali melanjutkan aktifitas pribadinya.

Fira tidak bisa memandikan dan mengganti popok adiknya. Dia tidak mau mencoba selama ada Nabila di rumah. Setiap kali Mama harus keluar rumah untuk suatu urusan, selalu Nabila yang menjaga adiknya. Secara tidak langsung, Nabila dan Mama tidak bisa keluar rumah bersamaan untuk waktu yang cukup lama dengan Fira dan adik di rumah.

Karenanya, kejenuhan Nabila yang sering kali tidak bisa keluar rumah ーkarena berbenturan dengan Mama yang keluar pulaーmembuatnya menjadi sangat labil dan emosional. Nabila kesal dengan Fira yang enggan untuk mencoba menjaga adik dengan seutuhnya. Selama ini Fira hanya mau untuk memberikan makan dan mengajak bermain saja. Nabila mulai kehilangan semangatnya. Dia semakin malas untuk mengerjar mimpinya. Seringkali saat ada waktu luang, dia merasa lelah dan akhirnya hanya bersantai atau malah tidur.

Siang itu, alih-alih memasak atau tidur, Nabila membuka portal https://zenius.net. Dia berharap menemukan sesuatu yang bisa mengubah suasana hati. Dengan akun yang dia dapatkan dari Xpedia, Nabila mulai membuka halaman SBMPTN. Ternyata web tersebut memiliki beberapa video terbaru. Nabila melihat terdapat opsi penyimpanan soal sebagai pdf juga di bagian atas halaman. Dia memikirkan sebuah ide. Jika mengerjakan soal langsung melalui laptop membuatnya sering kali lupa, bagaimana kalau soal-soal tersebut Nabila cetak saja? Bukankah dengan menulis langsung di soal maka ingatannya akan lebih kuat?

Jujur saja, Nabila dahulu agak menghindari cara ini karena sempat dikecewakan oleh buku kumpulan soal SBMPTN yang dibelinya di toko buku. Varian soal yang mereka sajikan sangat terbatas. Begitu pula dengan pembahasan yang kurang lengkap dan banyak memakai cara pintas. Membuatnya menjadi hapal rumus, tapi kesulitan dalam menganalisis soal itu sendiri yang berakhir pada ketidakmampuan mengerjakan soal.

Tetapi mengingat portal tersebut menyediakan soal yang melimpah dan pembahasan dari akarnya, kini dia memberanikan diri. Dicetaknya satu persatu soal tersebut. Dari pelajaran bahasa, IPA, hingga TPA. Cukup banyak waktu yang dihabiskan untuk mencetak semuanya. Terdapat ratusanーatau mungkin ribuan nomor soal untuk dicetak. Nabila mencicil per mata pelajaran. Hari ini mencetak bahasa, lalu tpa, kimia, dan seterusnya.

Tak hanya mencetak soal saja. Nabila juga berusaha mengejar ketinggalannya dengan mengerjakan soal-soal sesuai dengan mata pelajaran yang dicetaknya hari itu. Dia membawa kumpulan kertas soal zenius yang telah di susun rapi dengan klip kertas kemana saja. Saat Nabila ingin fokus belajar dan tidak diganggu oleh kebisingan orang rumah, dia akan belajar dan mengerjakan soal Zenius di teras, bersama kucing jantan tua bernama Olaf yang setia menemaninya dengan mengelus lembut kulit Nabila dengan bulu-bulunya yang lebat. Bahkan saat pulang kampung ke rumah nenek pun, kertas-kertas itu turut menemaninya. Secara berkala Nabila mengecek kebenaran jawabannya melalui video online zenius.

“Nab, kamu ikut ujian PTS ya,”

Suara Mama yang lembut membuat gerakan tangan Nabila terhenti. Soal yang dikerjakan mendadak terasa begitu hambar. “Kenapa ma? Kan aku belum ikut SBMPTN. Belum tau lulus atau tidak.”

Mama tersenyum lalu duduk di atas kasur Nabila. “Iya, ini hanya cadangan kok.”

Nabila mengangguk kecil. “Baiklah kalau begitu.”

Beberapa hari kemudian Nabila sudah duduk manis di bis antar kota. Dia berangkat seorang diri menuju kampung halaman Papa untuk bertemu kakaknya yang akan mengantarkan Nabila ke tempat ujian berlangsung. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah kali pertama untuknya berpergian dengan bis sendirian. Jenjang perkuliahan yang begitu diidamkan telah membawanya menjadi lebih berani dalam melakukan hal baru.

Selesai melaksanakan ujian, Nabila langsung kembali ke rumahnya. Pengumuman akan diberitakan keesokan harinya. Dengan tubuh yang kelelahan karena perjalanan yang begitu jauh dan memakan waktu seharian, Nabila memasuki kamar orang tuanya. Mama tersenyum padanya.

“Kamu lulus.”

Nabila terdiam. Benarkah dia lulus? Dia pun segera melihat pengumuman online tersebut. Alangkah terkejutnya mengetahui nama lengkap Nabila tertera di sana. Nabila merasa begitu bersyukur. Akhirnya ada universitas yang bersedia menerimanya. Namun, ada sesuatu yang menghalangi kegembiraannya. PTS bukanlah salah satu target Nabila. Ini hanyalah cadangan. Tiba-tiba suara Mama memecah lamunan Nabila.

“Kalau kamu gak diterima di Kedokteran saat SBMPTN nanti, kamu harus masuk ke sini ya.”

Tidak.

“Kok begitu? Katanya ini cuma cadangan.”

Tidak! Nabila cukup sadar akan target yang harus dicapainya. Mendapatkan Kedokteran di PTS ini mungkin hanya kebetulan. Namun di PTN? Bersaing dengan ribuan pendaftar tentu tidak semudah itu. Belum lagi PTN yang ingin dituju merupakan salah satu PTN favorit. Kata-kata Mama terasa seperti hantaman godam yang besar untuk Nabila.

Pembicaraan yang alot pun terjadi. Nabila terus menerus mengajukan keringanan akan permintaan Mama.  Belajar dari kesalahan tahun sebelumnya, tahun ini Nabila hanya akan memilih Kedokteran di pilihan pertama. Itu berarti jika dia tidak diterima pilihan pertama maka dirinya akan berakhir di PTS.

Akhirnya pembicaraan pun selesai. Orangtua Nabila tetap tidak mengubah  permintaan mereka. Nabila merasa sangat kecewa akan hal itu. Dia belajar dengan tekun untuk lulus dan masuk PTN. Meskipun tidak di pilihan pertama. Memang, seharusnya permintaan tersebut menjadi cambuk baginya agar lebih bersemangat dalam belajar. Namun, hatinya terasa berat untuk menjalani semua itu.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Malam ini Nabila tidur lebih cepat. Dia akan bangun dini hari keesokan harinya untuk bermunajat kepada Allah SWT. Nabila sangat bimbang. Besok adalah hari ujian. Pikirannya terus dipenuhi dengan permintaan orangtua Nabila. Belajarnya akhir-akhir ini tidak sefokus dahulu. Membuat kecemasan Nabila semakin meningkat hingga ke puncaknya.

Setelah sarapan, Nabila segera melaju menuju lokasi ujian. Saat kertas ujian TKPA dibagikan, sesuatu yang aneh bergerilya di dalam perutnya. Di saat genting seperti itu, Nabila mengalami mulas yang luar biasa. Dengan sekuat tenaga Nabila berusaha berkonsentrasi mengerjakan setiap soal yang ada. Mulutnya terus membisikkan kalimat basmalah untuk setiap opsi yang dihitamkan. Tangan kirinya terus memeluk perut, berharap kehangatan dapat membuatnya lebih tenang.

Menahan mulas selama hampir dua jam membuatnya tak berdaya. Nabila berlari ke kamar mandi begitu selesai mengumpulkan jawaban.

Pasti karena terlalu cemas. Kegugupan ini membuatku semakin mulas.

Nabila berusaha menenangkan diri. Sesudah ini adalah ujian saintek yang sangat krusial untuk menentukan hasil perjuangannya setahun ini. Setelah berdoa, Nabila membuka bagian pertama. Matematika.

Kedua matanya menelusuri setiap soal yang ada. Keringat dingin menjalari punggungnya. Mungkin sebaiknya dia melewati matematika dan fisika terlebih dahulu. Kedua soal hitungan itu kerap kali menyita waktu untuk Nabila yang kesulitan dalam bidang tersebut.

Alhamdulillah…

Kimia kali ini dapat dikerjakan dengan cukup lancar. Aneh memang, biologi yang menjadi kesukaan Nabila sejak dahulu malah terasa lebih sulit ketimbang kimia yang baru sempat dia pelajari sungguh-sungguh dalam 3 hari terakhir. Hari yang singkat namun sangat produktif berkat deliberate practice yang Sabda sarankan. Rehan juga ikut membantu menjawab pertanyaan Nabila seputar kimia full-time selama 3 hari berturut-turut. Ah iya, mungkin Allah SWT tengah memperingatkan dirinya karena menyepelekan biologi dan menjadikan Nabila lebih santai saat mempelajarinya.

Ya Allah aku berserah diri kepadamu apapun hasilnya…

***

Hari-hari setelah ujian terasa begitu lambat berjalan. Nabila lebih banyak bermain game The Sims 3 daripada me-review soal SBMPTN kemarin. Dia juga jarang membuka ponselnya untuk menghindari perasaan cemas saat mengingat ujian yang lalu. Semakin banyak bermain, semakin Nabila merasa malas melakukan segalanya. Dia lebih sering berada di depan laptop untuk bermain daripada mengobrol santai dengan orangtuanya.

Kemalasan Nabila semakin memuncak. Sadar akan kebiasaan yang semakin memburuk, Nabila mencoba meminta saran kepada teman-teman melalui social media.

Eh bosen nih. Enaknya ngapain ya han? 

Teman Nabila yang bernama Rehan membalas pesannya beberapa saat kemudian.

Bosen? Banyakin sujud nab. Shalat. Minta yang terbaik untuk hasilnya.

Nabila terdiam. Ya benar, semakin dia malas maka semakin jauh pula dirinya dari Sang Pencipta. Kata-kata singkat dari temannya membangunkan Nabila dari tenggelam di lautan sifat malas. Dia memperbanyak shalat hajat dan shalat sunah lainnya. Selain itu, Nabila juga kembali sering menemui orangtuanya untuk sekedar mengobrol santai.

Adik laki-laki Nabila kini sudah bisa merangkak. Tiap langkah yang dibuatnya membuat keluarga Nabila was-was. Dia kerap kali merangkak dengan cara meluncur. Sungguh cara yang aneh untuk bisa meraih tempat yang dituju lebih cepat. Nabila cemas jika adiknya melangkahーatau meluncurーke lantai. Entah sudah kali keberapa kepala bayi itu terbentur karena kebiasaan meluncurnya yang luar biasa.

Selain itu, adik Nabila tengah belajar bicara. Ada saja ucapan yang keluar dari mulutnya dan mengundang gelak tawa keluarga. Ah bayi yang satu ini akan membuat Nabila semakin merindukan kehangatan tempat tinggalnya. Bahkan dia mulai merasa sedih karena tidak bisa melihat adiknya mulai berjalan di usianya yang beranjak memasuki tahun pertama kehidupan.

Untuk pengumuman kali ini, Nabila tidak ingin membukanya dengan terburu-buru. Saat Mama bertanya padanya, dia hanya menghindar dengan wajah masam. Nabila berencana untuk melihatnya selepas shalat tarawih. Sendiri saja di kamarnya.

Capture

Nabila tercekat. Dia berhasil menjadi satu dari ribuan orang yang ingin menjadi mahasiswa jurusan Teknologi Pangan Universitas Dipenegoro. Perasaan bahagia yang begitu besar membuatnya langsung bersujud dan melafalkan doa sujud syukur. Kebahagiaan ini jauh melampaui momen kelulusan di PTS. Kebahagiaan ini berasal dari target utamanya. Target yang membuatnya berusaha keras melalui banyak tekanan mental sebagai anak yang dianggap ‘gagal’ dalam meraih perguruan tinggi negeriーtidak seperti kebanyakan anak di keluarga besarnya.

Tungkainya berjalan cepat menuju kamar orangtua Nabila. Secepat momen saat dia beranjak menuju kamar mereka setelah membuka portal blog zenius. Ya, inilah saat-saat yang paling ditunggu.

“Tidak boleh.”

Senyum sumringah Nabila berubah menjadi muram. Orangtua Nabila tidak menyetujui dirinya melanjutkan kuliah di UNDIP karena jurusan tersebut menyalahi perjanjian.

“Kamu boleh mencoba mengisi formulir daftar ulang, tapi tetap harus masuk ke PTS yang kemarin.”

Tawaran dari Mama tidak mengubah wajah muramnya sedikitpun. Irisnya beralih kepada Papa. Berharap beliau memberikan opsi yang lebih baik.

“Sayang loh, di PTS itu kita sudah membayar cicilan pertama uang gedung.”

Benar. Ya, apa yang dikatakan Papa memang benar. Mereka sudah susah payah mencari uang berjuta-juta dengan menjual tabungan berupa barang berharga yang mereka simpan sejak Nabila lahir. Entah meminjam dari siapa lagi hingga mereka sanggup melunasinya.

Nabila termenung. Jemarinya mulai membuka satu persatu pesan di ponsel. Akun Nabila penuh dengan pesan dari teman-temannya. Semua masih seputar hasil pengumuman. Nabila melirik daftar nama di sana. Pilihan jatuh orang yang tak asing lagi sebagai sosok yang Nabila cari setiap memiliki masalah dalam memilih sesuatu.

Gimana nab SBMPTN nya?

Alhamdulillah bang, dapet tekpang undip

Trus gimana?

Jemari Nabila terhenti. Haruskah dia menceritakan semuanya? Sudut matanya menangkap Mama dan Papa  yang sedang sibuk membicarakan apa yang harus Nabila lakukan. Pandangan itu membuat Nabila semakin yakin untuk menceritakan segalanya. Luapan perasaan bahagia dan sedih bersatu dalam setiap ketikan.

Jawaban kakak Nabila membuat perasaannya menjadi lebih baik. Dia menyarankan untuk shalat istikharah dan memikirkan matang-matang pilihan tersebut. Waktu yang Nabila miliki pun hanya 10 hari. Perjanjian dengan PTS tersebut menyatakan bahwa pengunduran diri melebihi 10 hari tidak akan mendapatkan refund (pengembalian uang muka) yang nantinya akan dipotong dengan biaya administrasi.

Browser ponsel adalah aplikasi yang selalu dibuka oleh Nabila setiap hari. Dia berusaha mencari tahu tentang jurusan yang awam di telinga keluarganya ini. Mereka beranggapan kalau jurusan Nabila tidak memiliki kepastian di kemudian hari. Sementara Mama bilang mayoritas temannya di teknologi pangan akan berakhir sebagai Quality Control.

Lebaran tahun ini keluarga Nabila memutuskan untuk pulang kampung lebih cepat sehari. Selain untuk menghindari kemacetan, orangtua Nabila juga ingin mengajaknya melalukan diskusi keluarga besar mengenai perguruan tinggiーmasa depannya. Kamar tamu yang terletak di bagian tengah rumah Budhe, menjadi saksi  bisu diskusi antara keluarga Nabila dengan Budheーkakak dari Papa dan juga satu saudara sepupu yang tengah mempersiapkan skripsi untuk sidang kelulusan.

Kakak Nabila memulai pembicaraan. “Sebaiknya Nabila memilih jurusan yang murni karena keinginan dia. Jangan sampai ada inteferensi dari tuntutan orang lain. Termasuk Fira yang ingin memasuki jurusan tekpang juga.”

Ya, adik perempuan Nabila memang ingin memasuki jurusan yang sama. Dia merasa lumayan kesal saat mengetahui Nabila juga memilih jurusan tersebut dan lulus di tahun ini.

“Ingat impianmu, Nab. Sejak kecil kamu kan mau jadi dokter. Apa kamu gak menyesal untuk melepasnya? Mama cuma ingin yang terbaik untuk kamu.”

Cita-cita itu memang sudah semakin dekat… Sejengkal dari wajah. Namun, Nabila berharap bukan di jalan ini. Jika dia mendapatkannya di PTN tentu akan lebih mudah untuk memilih.

“Papa cuma bisa membantu secara finansial. Keputusan ada di tangan kamu. Gak usah takut soal adikmu yang masih bayi, itu tanggung jawab Papa.”

Pelupuk mata gadis itu mulai penuh dengan lelehan air mata. Adik laki-lakinya memang lahir di luar rencana orangtua Nabila. Mereka sudah menyusun biaya pendidikan sedemikian rupa. Namun, dengan memilih PTS kedokteran, tentu saja biaya pendidikan yang disisihkan untuk Nabila tidaklah mencukupi. Papa sudah mencapai usia senja, tak lama lagi akan pensiun. Target Nabila untuk lulus cepat dan membantu biaya pendidikan adiknya terasa semakin jauh dengan memilih jurusan kedokteran yang notabene menghabiskan waktu minimal 7 tahun untuk meraih gelar dr. dan mendapatkan surat izin praktik.

“Budhe tahu kamu takut mengenai kelemahanmu di hitung-hitungan dan hapalan. Tapi kedokteran bukan tentang itu saja. Ada analisis yang dibutuhkan di sana. Kamu punya analisis yang lebih untuk seorang anak yang bahkan belum menempuh kuliahnya.”

Analisis dan observasi kecil-kecilan mengenai kesehatan seputar keluarganya memang kerap Nabila lakukan. Tetapi, semua itu didasari oleh materi pelajaran SMA dan pencarian di internet. Tidak valid dan malah memiliki lebih banyak kepentingan pribadi di dalamnya. Sangat jauh dengan analisis mereka yang sungguh-sungguh menempuh pendidikan kedokteran.

“Nah, gimana pilihanmu, Nab?”

Budhe dan sepupunya memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka ingin memberi Nabila ruang untuk berpikir bersama keluarganya. Sungguh, pikiran Nabila tengah kelabu. Dia merasa arah diskusi keluarganya menjurus ke PTS. Mulutnya terkunci rapat. Menolak untuk langsung menjawab pertanyaan tersebut.

Menit-menit berlalu dengan cepat. Keheningan di ruangan tertutup itu semakin mencekam. Tanpa terasa lelehan hangat mengalir di pipinya. Sulit sekali membuka mulut Nabila untuk memberi penjelasan. Selain karena merasa tidak yakin dengan keputusannya, Nabila juga takut kata-kata yang akan diucapkan ini menyinggung perasaan orangtuanya. Tekanan yang begitu besar membuat otak Nabila tak dapat menyusun kata sesuai seperti apa yang ada di hati nuraninya.

“Pa, kadang Mama merasa gak dihargai sebagai orangtua ya.”

Nabila tertegun.

Kalimat itu seperti anak panah yang menusuk tajam perasaannya. Sontak angannya kembali ke setahun yang lalu. Saat Nabila ingin sekali fokus belajar seperti teman-temannya. Mayoritas waktu yang habis untuk urusan rumah tangga mengikis keinginan tersebut. Tuntutan sebagai anak yang ‘menanggur’ membuat waktu belajarnya menjadi tidak maksimal. Nabila berusaha menyimpan pemikiran itu dalam-dalam agar tidak menyakiti  orangtuanyaーterutama Mama. Yang rela melepaskan pekerjaan impian sejak kecil demi bayi yang berada di kandungan. Membuat finansial keluarga sempat goyah. Dan juga membuat Mama menjadi penanggungjawab seutuhnya yang berkaitan dengan rumah dan bayi mungil tersebut.

Pikiran Nabila berkecambuk. Mungkinkah pengorbanan waktu selama ini belum cukup? Apakah membantu semua urusan rumah tangga itu masih belum dapat memuaskan Mama? Apakah Nabila benar-benar belum bisa menghargai orangtuanya?

Kali ini Nabila memutuskan keluar dari kamar. Dia merasa tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Diskusi hari ini berakhir tanpa kesimpulan.

***

Nabila bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melakukan kegiatan seperti biasa. Bangun tidur, makan, mencuci piring, masak, dan mencuci baju. Siang itu jadwal memasak bersama Budhe di dapur kecil dekat dengan rumah peninggalan Mbah Nabila. Pepaya berukuran kecil namun kaya akan aroma dan rasa tengah dikupasnya. Meski pikirannya tengah terbang entah kemana, matanya tetap berusaha fokus agar jemarinya tidak teriris pisau. Budhe yang tiba-tiba berdiri di sebelah Nabila membuyarkan lamunan itu.

Ndok, Budhe tahu kamu sebenarnya mampu..”

Suara lembut itu perlahan merasuki hati kecilnya.

“Gak usah memikirkan biaya nanti. Orangtua itu, kalau untuk kebaikan anaknya, apapun pasti dilakukan. Mbuh piye carane. Sing penting anaknya bisa sekolah.”

Ah, Budhe seperti dapat membaca pikiran Nabila yang disimpannya rapat-rapat.

“Tidak usah memikirkannya…”

Lagi-lagi matanya tertutup oleh cairan bening itu. Kata-kata Budhe begitu halus dan lembut… Menyeruak masuk ke hati kecilnya.

Ndok, coba lihat mata Budhe.”

Nabila tertegun. Air mata itu akhirnya tumpah juga. Dia tak sanggup menatap Budhe dengan wajah seperti itu. Sambil tetap mengupas pepaya yang tingal beberapa irisan, Nabila berusaha mengendalikan isak tangisnya.

“Aah budhe mah…” Suara Nabila yang sedikit merajuk mengundang tawa kakak yang tengah melintasi dapur.

“Yaaah nangis. Udah gak usah nangis laah,” sahut kakak.

Nabila terkekeh mendengar celetukan kakaknya yang usil. Percakapan siang itu membuatnya berpikir ulang. Entah sudah berapa hari berlalu tanpa percakapan dua arah antara dirinya dan orangtua. Nabila selalu diam saat orangtuanya mengajak bicara. Namun kini, Nabila siap untuk bicara. Menjawab semua pertanyaan yang diajukan orangtua Nabilaーorangtua yang selalu ada untuknya sejak gadis itu masih berupa segumpal darah.

***

Pendidikan memang bukan satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan. Banyak faktor yang mendasari keberhasilan seseorang. Namun, pendidikan yang tinggi juga melatih kinerja otak individu. Bagaimana cara mengatur jadwal kuliah yang padat? Bagaimana cara mengatur keuangan bulanan? Bagaimana cara mengkonsumsi makanan yang murah namun tetap memenuhi gizi harian? Bagaimana cara melepas rindu sebagai anak perantauan?

Mental dan fisik ditempa sedemikian rupa untuk menjadi individu yang dewasaーbukan hanya dewasa jasmani saja, tetapi juga dewasa dalam berpikir dan bertindak. Begitu banyak rintangan yang harus dilewati para siswa untuk menjadi ‘maha’siswa. Mulai dari rintangan finansial, kemampuan belajar, fisik yang tak memumpuni, bahkan yang terpentingーrestu dari orangtua sekalipun.

Pepatah jawa mengatakan: gusti Allah ora sare. Memiliki arti Tuhan tidak pernah tidur. Perjuangan kita tidak lah akan menjadi sia-sia. Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya. Jika kita melalui jalan yang benar, maka akan keluar melalui jalan yang benar pula. Kobarkanlah semangat perjuangan. Berjuang untuk menjadi lebih baik dalam wawasan dan intelektual. Hadapi cobaan dengan senyuman. Apapun itu. Sesungguhnya Tuhan tengah menghapuskan dosa-dosa mu melalui cobaan tersebut, maka tetaplah tersenyum.

Pohon kerja keras yang dipupuki keikhlasan dan disiram dengan kesabaran akan menghasilkan buah yang manis dan lezat. Saat semangat untuk belajar menurun, maka renungilah tujuan hidupmu. Untuk sekedar meraih sarjana atau untuk menjadi individu yang selalu berkembang dan sukses mencapai impian agar berguna bagi sekitarnya?

Mulailah membuat target pencapaian yang sederhana. Bisa dimulai dari target pencapaian materi belajar, target membersihkan jadwal kegiatan agar efektif, hingga target untuk membahagiakan orangtua. Belajar itu sendiri bisa berasal dari mana saja. Tidak wajib untuk ikut bimbingan belajar, asalkan ada niat dan kemantapan target, belajar mandiri pun terasa menyenangkan untuk dijalani. Disiplin dalam meluruskan niat akan menjadi pelengkap yang sempurna.

Saat terbiasa untuk tidur dan malas sebagai pengisi hari-harimu, ingatlah, bahwa ada sosok orangtua yang tengah berkerja keras dan menunggu anaknya untuk menjadi individu yang berhasil. Kesuksesan memang tidak terbatas materil, bahkan mungkin memang tidak memiliki batas. Kesuksesan menurut penulis adalah saat dimana kita merasa puas dengan hasil jerih payah yang sudah maksimal dan langsung memasang target pencapaian terbaruーtarget kesuksesan selanjutnya.

Untuk pejuang PTN di sana, teruslah berlari. Larilah mengejar mimpi kalian. Janganlah takut menghadapi apa yang akan datang. Fokuslah dengan apa yang kalian perjuangkan sekarang. Bagaimanapun hasilnya, kalian terlahir sebagai pemenang.